Perubahan Iklim Adalah Sinyal Gagalnya Model Pembangunan Saat Ini

Chalid Muhamad, Walhi

Wilayah Asia Pasifik harus bersiap dan mendesak dunia melakukan tindakan yang jauh lebih konkret menghadapi perubahan iklim.  Asia Pasifik akan mengalami dampak serius akibat perubahan iklim, kekeringan panjang, musim hujan yang pendek dengan intensitas tinggi, kenaikan muka air laut, kerentanan yang makin tinggi pada potensi kebakaran hutan dalam 20-30 tahun mendatang.

Anggota-anggota federasi Friends of the Earth International (FoE International) yang berkumpul di Bogor, Senin hingga Rabu minggu lalu menyimpulkan bahwa perubahan iklim adalah alarm terakhir dari gagalnya model pembangunan yang berlaku sekarang. Pertemuan ini juga merupakan persiapan masyarakat sipil terhadap putaran perundingan negara-negara penandatangan Protokol Kyoto-UNFCCC di Bali Desember mendatang.

“Tanda-tanda perubahan iklim dan buruknya dampak perubahan iklim merupakan seruan bagi masyarakat internasional untuk bertindak sekarang tanpa menunda lagi. Pemerintah-pemerintah akan mendiskusikan skema baru berdasarkan Protokol Kyoto paska 2012. Kami berharap negara-negara industri menunjukkan kepeloporannya dalam mereduksi emisi mereka sendiri,” kata Catherine Pearce, Koordinator Kampanye Perubahan Iklim dan Energi Friends of the Earth Internasional.

Badan ilmiah PBB, IPCC dalam Laporan Assesment ke 4nya tahun ini, memperingatkan bahwa dunia sedang mengalami dampak yang luar biasa merusak akibat perubahan iklim terutama di negara-negara selatan terutama negara kepulauan seperti Indonesia. Kerusakan bahkan telah terjadi sekarang berdampak pada masyarakat yang tinggal di pesisir, petani, dan kelompok-kelompok yang terkena cuaca ekstrem. Penyebabnya adalah eksploitasi serampangan yang dilakukan oleh negara-negara industri seperti Jepang. Emisi karbon maupun jejak karbon Jepang tersebar di seluruh Asia.

“Sekarang saatnya bertindak bukan hanya mengurangi emisi negara utara tetapi mengubah cara hidup negara-negara maju dan mengambil tanggung jawab atas dampak yang telah terjadi bagi rakyat di Asia dan seluruh dunia,” kata Yuri Onodera dari FoE Jepang.

”Rakyat seluruh dunia harus menuntut agar negara-negara seperti Australia, yang emisi gas rumah kaca perkapitanya amat tinggi, segera mengurangi emisinya dan mengambil tanggung jawab atas emisi masa lalu,” kata Stephanie Long (FoE Australia).

Banyak negara Asia Pasifik seperti Indonesia misalnya, sama sekali tidak menunjukkan kesiapannya dalam memperbaiki mutu lingkungan, merubah pengerahan sumber daya pembangunan, dan menata perekonomian rakyat agar lebih mampu bertahan pada iklim yang berubah. Kenyataannya, kerusakan lingkungan semakin bertambah parah dan tidak teratasi. Dalam catatan WALHI/FoE-Indonesia sebagian besar bencana alam yang terjadi di tahun 2006 adalah bencana yang diakibatkan oleh salah urus lingkungan. Pembukaan wilayah-wilayah ekosistem penting untuk industri ekstraktif, perkebunan raksasa, dan perluasan infrastruktur semakin mempertinggi kerentanan pulau-pulau Indonesia bertahan dari perubahan iklim.

Pemanasan global dan perubahan iklim adalah sinyal atas gagalnya model pembangunan saat ini. Perlu dilakukan reorientasi pembangunan dari paradigma yang hanya berorientasi pembangunan ekonomi menjadi  pembangunan yang berorientasi keselamatan rakyat.  Hal ini bisa dilakukan dengan pengerahan sumberdaya pembangunan untuk mengurangi kerentanan ekosistem dan sosial agar dapat bertahan dalam iklim yang berubah.

Masyarakat harus bekerja bersama menuntut negara-negara industri mengurangi konsumsi yang berlebihan dan memberikan kompensasi pada mereka yang menderita akibat perubahan iklim dan ekstraksi sumber daya yang berlebihan.

Catatan:

  • Friends of the Earth International adalah federasi organisasi lingkungan terbesar di dunia yang beranggotakan 70 organisasi di 70 negara, 5000 kelompok – kelompok lokal dan akar rumput, serta1.5 juta pendukung. (www.foei.org)
  • Wahana Lingkungan Hidup Indonesia adalah anggota dari federasi Friends of the Earth Interational
  • IPCC: Intergovernmental Panel on Climate Change adalah satu badan ilmiah yang terdiri lebih dari 500 ilmuwan dari seluruh dunia yang bertugas melakukan telaah atas pemanasan global dan perubahan iklim. Setiap tahun badan ini mengeluarkan laporan kondisi perubahan iklim yang menjadi dasar perundingan antar negara dalam rangka mengatasi pemanasan global dan perubahan iklim.
Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s