GloW-Alliance

Entries categorized as ‘Uncategorized’

The New GloW is Back

August 19, 2008 · Leave a Comment

GloW Alliance: Save the Earth Indonesia is back dengan semangat baru! Tunggu update segala macam kegiatan baru kami dan mari kita sama-sama menyelamatkan bumi Indonesia!

Categories: Uncategorized

KTT G8 Berakhir

June 13, 2007 · Leave a Comment

Oleh: Peter Phillipp dari Heiligendamm

KTT di Heiligendamm berakhir dengan beberapa kesepakatan, diantaranya komitmen bersama untuk mengambil langkah lanjutan pasca Protokol Kyoto dan bantuan untuk Afrika.

Tahun lalu dalam pertemuan negara-negara industri maju di St.Petersburg Rusia, Kanselir Jerman Angela Merkel merupakan wajah baru dalam lingkaran G8. Namun kini, satu tahun sesudahnya, ia menjadi tuan rumah pertemuan akbar tersebut. Di kawasan wisata mewah pemandian tua Jerman, Heiligendamm, Merkel menyatakan kepuasannya, atas hasil-hasil kesepakatan KTT G8, yang telah ditutup Jumat kemarin.

“Saya dapat mengatakan bahwa pertemuan ini berhasil. Karena menurut saya telah ada keputusan dalam skala besar, untuk berbagai isu inti Jerman sebagai pemimpin G8. Kita telah bertekad membahas tema pertumbuhan dan tanggung jawab dalam berbagai dimensi. Dan kami berhasil, memasukannya secara tegas dengan berbagai bentuk dalam dokumen penutup G8.”

Tema-tema yang dimaksud adalah soal kesepakatan yang diambil sehubungan upaya memperlambat perubahan iklim dan membantu Afrika. Negara-negara maju sepakat untuk mengambil langkah pasca Protokol Kyoto, dengan kerangka Perserikatan Bangsa-bangsa. Meski tidak menaruh target yang pasti batasan emisi yang harus dipotong.

“Titik keberhasilannya terletak pada bahwa misi perundingan yang jelas, dengan berdasarkan mekanisme Perserikatan Bangsa-bangsa. Juga negara-negara yang dalam KTT G8 menjadi tamu, seperti India, Cina, Meksiko, Brasilia, dan Afrika Selatan, juga telah menyatakan dengan tegas bahwa mereka merasa wajib terikat dalam mekanisme tersebut. „

Kini Perserikatan Bangsa-bangsa yang akn menjadi lokomotifnya. Dimana PBB akhir tahun ini akan menggelar konfrensi perubahan iklim internasional di Bali.

Dalam pertemuan KTT G8, para pemimpin G8 setuju untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan berjanji untuk membahas kesepakatan baru apa yang akan dilakukan setelah Protokol Kyoto. Namun sayangnya Merkel tidak mampu meyakinkan G8 untuk menargetkan pengurangan emisi rumah kaca 50 persen hingga tahun 2050 mendatang.

Sementara untuk Afrika, disepakati pengucuran dana bantuan untuk memrangi AIDS, malaria dan TBC alias tuberkolose.. Namun belum jelas juga kapan tanggal waktu pencairan dana tersebut.

Sementara untuk penyelesaian Kosovo, para pemimpin gagal memecah kebuntuan menetapkan kemerdekaan provinsi di Serbia itu. Sementara untuk kasus atom Iran. Para pemimpin negara-negara maju mendesak negara itu untuk tidak mengabaikan peringatan PBB.

Di bidang ekonomi, para pemimpin negara-negara maju sepakat untuk lebih fleksibel dalam perumusan perdagangan bebas, agar dapat memecah kebuntuan perundingan Putaran Doha.

Sementara itu di luar arena KTT G8, Jumat kemarin, helikopter-helikopter kepolisian sibuk memaksa turun balon udara LSM pemerhati lingkungan Greenpeace yang mengibarkan petisi di udara. Mereka sengaja memakai cara itu, agar dapat dilihat oleh para pemimpin negera-negara G8, Greenpeace menagih janji G8 untuk menurunkan emisi gas rumah kaca. Sementara itusejumlah pendemo menanggalkan busana mereka dan melompat ke Laut Baltic, di depan pusat media KTT G8 di Kuehlungsborn, sebelah barat Heiligendamm. Sebagian diantara mereka ditahan kepolisian. Di kota tetangga Rostock, polisi pun disibukkan oleh aksi ribuan demonstran penentang KTT G8, yang melakukan reli damai, dalam mengakhiri aksi pemblokiran jalan.

Categories: Uncategorized

Glenn on GloW

May 2, 2007 · Leave a Comment

Kabar gembira!

Kemarin malam saya, Christa & Boyke ngobrol lama dengan Glenn Fredly. Hasilnya, doi mau ikutan cuap2 mengenai pemanasan global, dan yang lebih hebat lagi, kami sempat didengarkan lagu barunya dia (masih di cd demo) yang berbau kampanye kita. Semalam Glenn juga cukup antusias ingin berikan kita izin untuk gunakan lagu itu di kampanye2 kita (entah di film, radio atau TV). So, mudah2an kita bakal punya theme song ya.

Btw, ini lagu yang didengarkan kemarin, coba aja mainkan pakai kunci F, kalo enggak kunci Inggris aja :)

Rico

PEDULI

Hati gelisah melihat dunia merana
Apa kau rasa hal yang sama, musim berganti
Alam tak lagi berseri …
Teriknya panas menjadi …

Apakah kita peduli demi masa depan nanti
Dunia rumah kita sendiri …
Apakah kita peduli demi anak cucu nanti
Dunia rumah kita sendiri …

Lihatlah ini perbuatan kita sendiri
Sayangi bumi hari ini …

Categories: Uncategorized

Greenpeace SolarGeneration tantang pemerintah dunia untuk pilih solusi energi bersih & aman

May 2, 2007 · Leave a Comment

Nur Hidayati, Juru kampanye iklim dan Energi, Greenpeace Asia Tenggara

“Pesan kami jelas: kita harus pilih solusi energi yang bersih dan aman — yang lain hanya akan memperdayai generasi penerus bumi”.

Greenpeace dan duta-duta SolarGeneration merilis tantangan tersebut kepada para pemerintah dunia kemarin bersamaan dengan presentasi mereka bersangkutan dengan solusi-solusi energi terbarukan dan efisiensi energi pada acara pembukaan “UN’s Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) Working Group III” di Bangkok.

SolarGeneration, pelajar-pelajar yang berkampanye untuk pemakaian energi terbarukan yang lebih luas di seluruh dunia, menyampaikan pesan di atas ketika mereka bertemu dengan Ketua IPCC Dr. Rajendra Pachauri ketika beliau menjadi tamu khusus di kios SolarGeneration mereka yang berlokasi dekat dengan tempat pertemuan di UN Convention Center. Dr Pachauri berbicara langsung dengan pelajar-pelajar dari Thailand, India, Indonesia, Filipina, Cina, Jerman and Prancis, di mana beliau mengakui pentingnya keterlibatan generasi muda dalam isu-isu perubahan iklim.

“Satu-satunya solusi untuk perubahan iklim yang kita inginkan adalah yang bisa menjamin masa depan yang aman dan lebih baik. Pemerintah-pemerintah dunia semestinya tidak perlu menimbang proposal-proposal yang menghasilkan lebih banyak kerugian daripada keuntungan,” ungkap seorang anggota SolarGeneration dari Filipina, Karla de Guia. “Kami percaya bahwa hanya energi terbarukanlah satu-satunya solusi yang sempurna.”

IPCC bertemu di Bangkok untuk mendiskusikan rekomendasi rekomendasi kebijakan dalam rangka mengatasi perubahan iklim. Hasil pertemuan tersebut akan diungkapkan dalam sebuah laporan untuk publik pada akhir pertemuan di hari Kamis. Beberapa agensi media telah melaporkan bahwa opsi-opsi yang diperkirakan akan disampaikan dalam pertemuan tersebut berkisar dari efisiensi energi dan energi terbarukan, sampai teknologi yang berpotensi bahaya dan belum teruji seperti energi nuklir hingga penyerapan dan penyimpanan karbon.

Greenpeace meminta kepada para pemerintah di seluruh dunia untuk segera mengambil tindakan tegas untuk merevolusi produksi serta konsumsi energi global dalam menghadapi peringatan-peringatan yang mengkhawatirkan sehubungan dengan perubahan iklim yang telah dikeluarkan setelah dua
pertemuan IPCC di tahun ini.

“Satu-satunya solusi yang dapat diterima adalah adaptasi masal terhadap energi yang bersih dan terbarukan, serta adaptasi masal juga terhadap efisiensi energi. Greenpeace telah menunjukkan bahwa dunia bisa hidup dengan energi yang aman dan terbarukan, dan bahwa kita dapat mencapai target efisiensi yang diperlukan. Kita dapat melakukan semua ini bahkan bersamaan waktu dengan proses penghapusan pemakaian sumber energi berbahaya dan merusak lingkungan seperti batubara dan nuklir. Dan kita harus mulai sekarang juga,” kata Juru Kampanye Iklim dan Energi se-Asia Tenggara untuk Greenpeace, Tara Buakamsri.

Minggu yang lalu Greenpeace telah meluncurkan sebuah laporan berjudul ‘Energy [R]evolution: A sustainable East Asia Energy Outlook’ yang menjabarkan bagaimana pemakaian energi terbarukan, bersamaan dengan efisiensi yang dihasilkan oleh budaya hemat energi, dapat mencukupi setengah dari kebutuhan energi dunia hingga pada tahun 2050.

Laporan tersebut hadir di saat banyak negara-negara di Asia yang mewacanakan berbagai alternatif-alternatif lain untuk menghindari pemakaian sumber-sumber energi dari fosil yang berbahaya. Pendukung-pendukung muda SolarGeneration mendorong pemerintah mereka untuk memilih kebijakan energi yang benar.

“Saat ini pemerintah negara saya sedang mendorong dibangunnya pembangkit listrik tenaga nuklir. Namun saya tidak ingin adanya pembangkit nuklir di negara saya maupun di negara-negara lain karena itu sangat tidak aman dan berbahaya. Kebijakan tersebut tidak baik untuk masa depan,” ungkap Ivy Londa seorang anggota SolarGeneration dari Indonesia.

Categories: Uncategorized

Perubahan Iklim Adalah Sinyal Gagalnya Model Pembangunan Saat Ini

May 2, 2007 · Leave a Comment

Chalid Muhamad, Walhi

Wilayah Asia Pasifik harus bersiap dan mendesak dunia melakukan tindakan yang jauh lebih konkret menghadapi perubahan iklim.  Asia Pasifik akan mengalami dampak serius akibat perubahan iklim, kekeringan panjang, musim hujan yang pendek dengan intensitas tinggi, kenaikan muka air laut, kerentanan yang makin tinggi pada potensi kebakaran hutan dalam 20-30 tahun mendatang.

Anggota-anggota federasi Friends of the Earth International (FoE International) yang berkumpul di Bogor, Senin hingga Rabu minggu lalu menyimpulkan bahwa perubahan iklim adalah alarm terakhir dari gagalnya model pembangunan yang berlaku sekarang. Pertemuan ini juga merupakan persiapan masyarakat sipil terhadap putaran perundingan negara-negara penandatangan Protokol Kyoto-UNFCCC di Bali Desember mendatang.

“Tanda-tanda perubahan iklim dan buruknya dampak perubahan iklim merupakan seruan bagi masyarakat internasional untuk bertindak sekarang tanpa menunda lagi. Pemerintah-pemerintah akan mendiskusikan skema baru berdasarkan Protokol Kyoto paska 2012. Kami berharap negara-negara industri menunjukkan kepeloporannya dalam mereduksi emisi mereka sendiri,” kata Catherine Pearce, Koordinator Kampanye Perubahan Iklim dan Energi Friends of the Earth Internasional.

Badan ilmiah PBB, IPCC dalam Laporan Assesment ke 4nya tahun ini, memperingatkan bahwa dunia sedang mengalami dampak yang luar biasa merusak akibat perubahan iklim terutama di negara-negara selatan terutama negara kepulauan seperti Indonesia. Kerusakan bahkan telah terjadi sekarang berdampak pada masyarakat yang tinggal di pesisir, petani, dan kelompok-kelompok yang terkena cuaca ekstrem. Penyebabnya adalah eksploitasi serampangan yang dilakukan oleh negara-negara industri seperti Jepang. Emisi karbon maupun jejak karbon Jepang tersebar di seluruh Asia.

“Sekarang saatnya bertindak bukan hanya mengurangi emisi negara utara tetapi mengubah cara hidup negara-negara maju dan mengambil tanggung jawab atas dampak yang telah terjadi bagi rakyat di Asia dan seluruh dunia,” kata Yuri Onodera dari FoE Jepang.

”Rakyat seluruh dunia harus menuntut agar negara-negara seperti Australia, yang emisi gas rumah kaca perkapitanya amat tinggi, segera mengurangi emisinya dan mengambil tanggung jawab atas emisi masa lalu,” kata Stephanie Long (FoE Australia).

Banyak negara Asia Pasifik seperti Indonesia misalnya, sama sekali tidak menunjukkan kesiapannya dalam memperbaiki mutu lingkungan, merubah pengerahan sumber daya pembangunan, dan menata perekonomian rakyat agar lebih mampu bertahan pada iklim yang berubah. Kenyataannya, kerusakan lingkungan semakin bertambah parah dan tidak teratasi. Dalam catatan WALHI/FoE-Indonesia sebagian besar bencana alam yang terjadi di tahun 2006 adalah bencana yang diakibatkan oleh salah urus lingkungan. Pembukaan wilayah-wilayah ekosistem penting untuk industri ekstraktif, perkebunan raksasa, dan perluasan infrastruktur semakin mempertinggi kerentanan pulau-pulau Indonesia bertahan dari perubahan iklim.

Pemanasan global dan perubahan iklim adalah sinyal atas gagalnya model pembangunan saat ini. Perlu dilakukan reorientasi pembangunan dari paradigma yang hanya berorientasi pembangunan ekonomi menjadi  pembangunan yang berorientasi keselamatan rakyat.  Hal ini bisa dilakukan dengan pengerahan sumberdaya pembangunan untuk mengurangi kerentanan ekosistem dan sosial agar dapat bertahan dalam iklim yang berubah.

Masyarakat harus bekerja bersama menuntut negara-negara industri mengurangi konsumsi yang berlebihan dan memberikan kompensasi pada mereka yang menderita akibat perubahan iklim dan ekstraksi sumber daya yang berlebihan.

Catatan:

  • Friends of the Earth International adalah federasi organisasi lingkungan terbesar di dunia yang beranggotakan 70 organisasi di 70 negara, 5000 kelompok – kelompok lokal dan akar rumput, serta1.5 juta pendukung. (www.foei.org)
  • Wahana Lingkungan Hidup Indonesia adalah anggota dari federasi Friends of the Earth Interational
  • IPCC: Intergovernmental Panel on Climate Change adalah satu badan ilmiah yang terdiri lebih dari 500 ilmuwan dari seluruh dunia yang bertugas melakukan telaah atas pemanasan global dan perubahan iklim. Setiap tahun badan ini mengeluarkan laporan kondisi perubahan iklim yang menjadi dasar perundingan antar negara dalam rangka mengatasi pemanasan global dan perubahan iklim.

Categories: Uncategorized