GloW Alliance: Save the Earth Indonesia is back dengan semangat baru! Tunggu update segala macam kegiatan baru kami dan mari kita sama-sama menyelamatkan bumi Indonesia!
KTT G8 Berakhir
June 13, 2007 · Leave a Comment
Oleh: Peter Phillipp dari Heiligendamm
KTT di Heiligendamm berakhir dengan beberapa kesepakatan, diantaranya komitmen bersama untuk mengambil langkah lanjutan pasca Protokol Kyoto dan bantuan untuk Afrika.
Tahun lalu dalam pertemuan negara-negara industri maju di St.Petersburg Rusia, Kanselir Jerman Angela Merkel merupakan wajah baru dalam lingkaran G8. Namun kini, satu tahun sesudahnya, ia menjadi tuan rumah pertemuan akbar tersebut. Di kawasan wisata mewah pemandian tua Jerman, Heiligendamm, Merkel menyatakan kepuasannya, atas hasil-hasil kesepakatan KTT G8, yang telah ditutup Jumat kemarin.
“Saya dapat mengatakan bahwa pertemuan ini berhasil. Karena menurut saya telah ada keputusan dalam skala besar, untuk berbagai isu inti Jerman sebagai pemimpin G8. Kita telah bertekad membahas tema pertumbuhan dan tanggung jawab dalam berbagai dimensi. Dan kami berhasil, memasukannya secara tegas dengan berbagai bentuk dalam dokumen penutup G8.”
Tema-tema yang dimaksud adalah soal kesepakatan yang diambil sehubungan upaya memperlambat perubahan iklim dan membantu Afrika. Negara-negara maju sepakat untuk mengambil langkah pasca Protokol Kyoto, dengan kerangka Perserikatan Bangsa-bangsa. Meski tidak menaruh target yang pasti batasan emisi yang harus dipotong.
“Titik keberhasilannya terletak pada bahwa misi perundingan yang jelas, dengan berdasarkan mekanisme Perserikatan Bangsa-bangsa. Juga negara-negara yang dalam KTT G8 menjadi tamu, seperti India, Cina, Meksiko, Brasilia, dan Afrika Selatan, juga telah menyatakan dengan tegas bahwa mereka merasa wajib terikat dalam mekanisme tersebut.
Kini Perserikatan Bangsa-bangsa yang akn menjadi lokomotifnya. Dimana PBB akhir tahun ini akan menggelar konfrensi perubahan iklim internasional di Bali.
Dalam pertemuan KTT G8, para pemimpin G8 setuju untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan berjanji untuk membahas kesepakatan baru apa yang akan dilakukan setelah Protokol Kyoto. Namun sayangnya Merkel tidak mampu meyakinkan G8 untuk menargetkan pengurangan emisi rumah kaca 50 persen hingga tahun 2050 mendatang.
Sementara untuk Afrika, disepakati pengucuran dana bantuan untuk memrangi AIDS, malaria dan TBC alias tuberkolose.. Namun belum jelas juga kapan tanggal waktu pencairan dana tersebut.
Sementara untuk penyelesaian Kosovo, para pemimpin gagal memecah kebuntuan menetapkan kemerdekaan provinsi di Serbia itu. Sementara untuk kasus atom Iran. Para pemimpin negara-negara maju mendesak negara itu untuk tidak mengabaikan peringatan PBB.
Di bidang ekonomi, para pemimpin negara-negara maju sepakat untuk lebih fleksibel dalam perumusan perdagangan bebas, agar dapat memecah kebuntuan perundingan Putaran Doha.
Sementara itu di luar arena KTT G8, Jumat kemarin, helikopter-helikopter kepolisian sibuk memaksa turun balon udara LSM pemerhati lingkungan Greenpeace yang mengibarkan petisi di udara. Mereka sengaja memakai cara itu, agar dapat dilihat oleh para pemimpin negera-negara G8, Greenpeace menagih janji G8 untuk menurunkan emisi gas rumah kaca. Sementara itusejumlah pendemo menanggalkan busana mereka dan melompat ke Laut Baltic, di depan pusat media KTT G8 di Kuehlungsborn, sebelah barat Heiligendamm. Sebagian diantara mereka ditahan kepolisian. Di kota tetangga Rostock, polisi pun disibukkan oleh aksi ribuan demonstran penentang KTT G8, yang melakukan reli damai, dalam mengakhiri aksi pemblokiran jalan.
→ Leave a CommentCategories: Uncategorized
Welcome to Modbury. Just don’t ask for a plastic bag
June 13, 2007 · Leave a Comment
John Vidal, environment editor
Saturday April 28, 2007
The Guardian
Modbury is the quintessential small West Country town. Set in a hollow among rolling Devon hills just a few miles from the sea, it has 760 households, a high street, three churches, a primary school, several pubs, two takeaways, a surgery, a small supermarket and 40 or so small shops.
Not much happens in Modbury. Some say the last time the peace was disturbed was in 1643 when Roundheads and Cavaliers fought in its streets. But a revolution of another kind will take place on Monday. At 8am it will become the first plastic bag-free town in Europe.
Spurred by environmental fervour and growing concern about the 100bn or more plastic bags thought to be littering the world and clogging the seas, the town’s 43 traders have unilaterally declared their independence from the plastic bag and have pledged to no longer sell, give away or otherwise provide them to anyone in Modbury for a minimum of six months.
No one knows knows how much it will cost them or the town, or indeed whether Modburians and the holiday-makers who visit the town will rise in revolt.
But from now on, if you buy olives from Adam in the deli, a steak from Simon the butcher, or a sweet and sour from Phil in the Chinese, they will come wrapped in corn starch paper. Helen in the ironmongers, Sue in the gallery and Sarah in the gift shop are moving to cotton. If tourists nip into the Co-op for ice cream, they will be given a cloth bag. Modbury will be full of biodegradable, organic, fairtrade, unbleached, recycled carrier bags of every description – except plastic.
So committed are the retailers that they have commissioned 2,000 official Modbury bags, which could soon be collectors’ items. Made in Mumbai, India, they will sell for £3.95.
The idea of a plastic bag-free town comes from Rebecca Hoskins, a young Modbury-born-and-raised wildlife camerawoman who went to the Pacific last year to film marine life for the BBC but experienced horrendous plastic bag pollution.
“It really affected me,” she said. “I have never cried behind a camera before. I’m not a blubby person. But it broke my heart to see animals entangled in plastic, albatrosses dying in plastic, dolphins trailing plastic and seals with their noses trapped in parcel tape roll. The sea is now like a trash can and the plastic is there for ever. It doesn’t go away for hundreds of years. What I witnessed was just so unnecessary. All this damage is simply caused by our throwaway living.”
She returned to Devon, went diving and found the seas there also full of plastic. “So I booked the Modbury art gallery, invited all the traders and showed them my film. At the end they all said they would give up plastic bags.”
“It was very moving,” said Sue Sturton from the Brownston art gallery. “I thought people would turn a blind eye to something happening as far away as Hawaii. But I was wrong. We have a responsibility here. People go to the beaches here and we as shopkeepers are just handing out plastic shopping bags.”
“She massaged us. But it didn’t need much,” said Jane, who runs the St Luke’s hospice charity shop which is turning to paper and cloth bags. The other traders are buying bags for her to use in wrapping customers’ purchases. “I think it could work elsewhere, but this is definitely not a normal town at all.”
“They’ve got it now,” said Ms Hoskins, who gave up her film work two months ago to concentrate on turning the town plastic bag-free. “It seems to have really brought people together. The shops have sent all their unused plastic bags to Newcastle where they are being made into plastic chairs, and they have all set up plastic bag amnesty points where people can bring in the hundreds of bags that they keep under the kitchen sink. Now it’s just a question of seeing if people accept it. We are all trembling now. To be a pioneer is pretty scary.”
→ Leave a CommentCategories: GW in the News
Soul for Indonesian Earth: Sayangi Bumi Hari Inii
June 4, 2007 · Leave a Comment

Apakah orang Indonesia perlu peduli terhadap pemanasan global? Jawabannya tentu “ya”. Kenapa? Pertama, pemanasan global paling dapat dirasakan di negara-negara tropis dan kepulauan. Dan Indonesia adalah keduanya. Indonesia lah yang mengalami kekeringan, hujan tak menentu, banjir, angin puting beliung, kebakaran hutan dan meningkatnya penyakit-penyakit tropis seperti demam berdarah dan malaria. Lebih lagi, jika masyarakat Indonesia tidak melakukan apa-apa, dalam beberapa dekade kedepan, Indonesia harus rela kehilangan pulau-pulau indahnya yang tenggelam karena naiknya perrmukaan air laut.Seberapa seringkah kita protes tentang panasnya hawa? Parahnya banjir? Polusi, dll? Sadarkah kita jika semua itu ada campur tangan ulah manusia? Namun sudah saatnya kah kita pasrah? Tidak, namun, waktu kita tidak banyak. Karena itulah gerakan GloW Alliance dibentuk oleh berbagai macam individu dari berbagai macam latar belakang dan profesi dengan tujuan untuk menyelamatkan bumi Indonesia sehingga anak cucu kitapun masih dapat menikmati dan hidup di tanah air yang masih layak tinggali. Lingkungan sudah rusak, efek pemanasan global sudah semakin terasakan, namun dengan campur tangan manusia, gejala ini masih dapat minimal dilambatkan.
Menyikapi hal itu, maka kita harus bersama-sama mulai membukakan mata, hati, dan pikiran seluruh lapisan masyarakat mengenai apa yang terjadi saat ini disekitar kita yang akan berdampak di masa depan. Untuk itu GloW Alliance dan Pemuda Maluku Bersatu (PMB) berinisiatif menyelenggarakan konser amal SOUL FOR INDONESIAN EARTH “Sayangi Bumi Hari Ini” pada tanggal 07-07-2007 (7 Juli 2007) di Tennis Indoor Senayan dengan tujuan membangun kebersamaan untuk peduli akan pemanasan global, hal ini.
Seperti diketahui di bulan Desember 2007 ini, Indonesia akan menjadi tuan rumah United Nations Climate Change Conference yang akan membicarakan kelanjutan dari Kyoto Protocol*. Kemungkinan besar hasil dari konferensi antar negara ini akan disebut “The Bali Mandate”. Apa kontribusi rakyat Indonesia dalam mandat tersebut? Masyarakat Kyoto di Jepang mempersiapkan diri mereka satu tahun sebelum konferensi United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCC) yang menghasilkan Kyoto Protocol tersebut. Sudah saatnya kitapun melakukan hal yang sama dalam waktu yang lebih singkat. Sudah saatnya kesadaran pemanasan global masuk ke dalam rancah sosial, budaya dan pendidikan, tidah hanya dalam obrolan politik dan ekonomi.
Tentang GloW Alliance
Glow Alliance adalah sebuah aliansi untuk memerangi pemanasan global dalam konteks Indonesia. Aliansi ini melibatkan sekumpulan aktivis muda dari berbagai latar belakang seperti aktivis lingkungan, filmaker dokumenter, wartawan, praktisi production house, relawan independen, dosen, pelajar, dan mahasiswa.
Tentang Pemuda Maluku Bersatu (PMB)
PMB atau Pemuda Maluku Bersatu adalah sebuh organisasi yang dibentuk berdasar inspirasi untuk menyatukan Pemuda Maluku yang berkeinginan melakukan koreksi kritis terhadap perpecahan sesama anak negeri. Berbagai potensi masalah yang terpendam selama konflik dan pasca konflik yang menurunkan keterpurukan spirit dan moral, kesejahteraan, maupun keindahan alam Indonesia
“Lihatlah ini perbuatan kita sendiri. Sayangi Bumi Hari Ini”
* Kyoto Protocol adalah satu-satunya perjanjian internasional mengenai pemanasan global. Indonesia, termasuk dari 84 negara yang meratifikasi perjanjian tersebut ikut komit untuk melakukan usaha reduksi emisi gas rumah kaca.
→ Leave a CommentCategories: Events
Things you can do to help reduce greenhouse gas emissions, according to Climate Crisis Project presenter, Emerald Starr (The Jakarta Post)
May 3, 2007 · Leave a Comment
- Change a light — replacing a light bulb with a compact fluorescent bulb will save 80 kilograms of carbon dioxide a year (there are even pretty yellow ones now, so no excuses).
- Drive less — walk, bike, car pool or take public transport more often. You’ll save a kilogram of carbon dioxide for every 3.2 kilometers if you don’t drive. That’s 6600 kilograms a year.
- Recycle more — You can reduce carbon dioxide emissions by 1,300 kilograms per year by recycling just half of your household waste.
- Check your tires — Keeping your tires inflated properly can improve petrol mileage by more than 3 percent. You’ll save money and for every 4 liters of fuel saved, the amount of carbon dioxide released into the atmosphere is reduced by 10 kilograms.
- Use less hot water. Install a low flow shower head. This will save 175 kilograms of carbon monoxide per year. Wash clothes in cold water and you will reduce carbon dioxide emissions by 260 kilograms.
- Avoid over-packaged products — You can reduce carbon dioxide emissions by 650 kilograms if you reduce your garbage by ten percent.
- Plant a tree or bamboo — A single tree will absorb more than a ton of carbon dioxide over its lifespan. One bamboo clump will absorb 100 kilograms of carbon dioxide per year and one hectare of bamboo absorbs 33 tons of carbon dioxide per year.
- Turn off electrical devices — Simply by turning off your television, DVD player, stereo and computer when you are not using them will save thousands of kilograms of carbon dioxide emissions per year.
- Open a window and use fans — Turning off your air conditioner will save at least a ton of carbon dioxide per year.
→ Leave a CommentCategories: What can we do?
Greenhouse gases slowly kill us
May 3, 2007 · Leave a Comment
Trisha Sertori, Contributor, Denpasar
The Jakarta Post, Tuesday, May 01, 2007
Despite the horrors caused by global warming, we can still make a difference, according to Climate Crisis Project presenter, Emerald Starr.
During a presentation at the Canggu Club in Bali last week, Starr presented the real facts and cause of global warming: greenhouse gas emissions.
It is a terrifying fact that we humans are wiping themselves out at an ever-increasing pace, much the same as they managed to wipe out almost 60,000 different animal species over the past 100 years.
Starr is one of 1,000 people chosen by former U.S. vice president and environmental activist Al Gore to spread the message of the dangers of global warming. Gore’s Climate Project aims to dispel the myths and controversies surrounding global warming, and to promote the measures to be taken in order to slow down — and even reverse — the rise in deadly greenhouse gas emissions.
“Since the industrial revolution in the 1860s, global temperatures have been rising. Temperatures are now higher than ever before. In 2006 India recorded temperatures of 50 degrees Celsius, and extremes of temperature have been noted around the globe. This is a worldwide phenomenon,” Starr said.
In the short term, an increase in global temperatures will result in the occurrence of more storms and hurricanes, floods, droughts and typhoons. In the long term, global warming will wipe out entire countries, as land will become inundated by ever-increasing sea levels, Star explained.
“The earth is experiencing a record number of hurricanes, heavy storms, droughts and floods,” Starr said. “Japan had a record ten typhoons in one season and the U.S. suffered from 1700 tornadoes strong enough to lift houses. Tornadoes were registered in areas that had never been affected by this kind of weather pattern in the past.”
Starr cites the prestigious Michigan Institute of Technology research into storm strength, which points to an increase in the occurrence and intensity of storms since 1970. He says that scientists have no doubt that global warming is the reason behind these radical shifts in weather patterns, because as the sea warms-up, air currents, such as monsoons, are affected and change pattern.
It is in the near future that the most destructive aspects of global warming will be seen, says Starr, with countries such as the Netherlands losing much of their land base.
“As the ice caps and glaciers around the world melt, sea water is rising. Within a couple of decades we can expect waters to rise by more than five meters. At that level much of California would be under water; almost half of Florida will disappear; cities such as Beijing will become nightmare zones,” said Starr.
Diseases are also on the rise as a direct result of global warming, says Starr, with viruses such as malaria and dengue now prevalent in areas that once were cool climates.
“As colder areas warm there will be more diseases. Malaria and dengue will move from the tropics into newly warm areas. The case in America is one example. The West Nile virus is now prevalent in North America, since the country has warmed to a temperature in which the virus can survive. In the past it could not survive the cold winters.”
The impact of global warming on coral reefs can be seen, says Starr, and that is a major disaster as 25 percent of the earth’s oxygen is created by coral reefs. The destruction of reefs and wholesale slaughter of oxygen-producing forests, such as those in Kalimantan and Sumatra, is evidence of how humans are slowly suffocating themselves.
It does not have to be this way though, says Starr and other environmentalists, such as Naneng Setiasih of Reef Check Indonesia Foundation, working to protect viable reefs across Indonesia.
“We have a major crisis occurring from global warming with reefs bleaching and dying. What we are trying to do at Reef Check is map the most resilient reefs, those that are able to withstand the stress of global warming, and protect them,” said Naneng, citing reefs off Padang in Sumatra, Thousand Islands off Jakarta and reefs along the North Coast of Bali, as those that may be able to survive the effects of global warming.
According to Starr, one of the best ways to help reduce the volume of atmospheric carbon dioxide, the gas that causes most greenhouse gas emissions, is to plant trees, because trees absorb carbon dioxide.
This is what the East Bali Poverty Action program is doing in the poorest and driest zones of east Bali. Tree-planting is offering an income to local people and protecting the environment. Bali Teak Farms, under Sayu Made Putri, is also mass-planting teak and using the leaves to make recycled paper.
However, unless governments get tough on industry, automobile manufacturers and other heavy polluters, and financially back non-fossil fuel energy alternatives such as wind power, solar, even the use of coconut oil, humans will be running a losing race against the clock.
→ Leave a CommentCategories: GW in the News
Glenn on GloW
May 2, 2007 · Leave a Comment
Kabar gembira!
Kemarin malam saya, Christa & Boyke ngobrol lama dengan Glenn Fredly. Hasilnya, doi mau ikutan cuap2 mengenai pemanasan global, dan yang lebih hebat lagi, kami sempat didengarkan lagu barunya dia (masih di cd demo) yang berbau kampanye kita. Semalam Glenn juga cukup antusias ingin berikan kita izin untuk gunakan lagu itu di kampanye2 kita (entah di film, radio atau TV). So, mudah2an kita bakal punya theme song ya.
Btw, ini lagu yang didengarkan kemarin, coba aja mainkan pakai kunci F, kalo enggak kunci Inggris aja
Rico
PEDULI
Hati gelisah melihat dunia merana
Apa kau rasa hal yang sama, musim berganti
Alam tak lagi berseri …
Teriknya panas menjadi …
Apakah kita peduli demi masa depan nanti
Dunia rumah kita sendiri …
Apakah kita peduli demi anak cucu nanti
Dunia rumah kita sendiri …
Lihatlah ini perbuatan kita sendiri
Sayangi bumi hari ini …
→ Leave a CommentCategories: Uncategorized
Greenpeace SolarGeneration tantang pemerintah dunia untuk pilih solusi energi bersih & aman
May 2, 2007 · Leave a Comment
Nur Hidayati, Juru kampanye iklim dan Energi, Greenpeace Asia Tenggara
“Pesan kami jelas: kita harus pilih solusi energi yang bersih dan aman — yang lain hanya akan memperdayai generasi penerus bumi”.
Greenpeace dan duta-duta SolarGeneration merilis tantangan tersebut kepada para pemerintah dunia kemarin bersamaan dengan presentasi mereka bersangkutan dengan solusi-solusi energi terbarukan dan efisiensi energi pada acara pembukaan “UN’s Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) Working Group III” di Bangkok.
SolarGeneration, pelajar-pelajar yang berkampanye untuk pemakaian energi terbarukan yang lebih luas di seluruh dunia, menyampaikan pesan di atas ketika mereka bertemu dengan Ketua IPCC Dr. Rajendra Pachauri ketika beliau menjadi tamu khusus di kios SolarGeneration mereka yang berlokasi dekat dengan tempat pertemuan di UN Convention Center. Dr Pachauri berbicara langsung dengan pelajar-pelajar dari Thailand, India, Indonesia, Filipina, Cina, Jerman and Prancis, di mana beliau mengakui pentingnya keterlibatan generasi muda dalam isu-isu perubahan iklim.
“Satu-satunya solusi untuk perubahan iklim yang kita inginkan adalah yang bisa menjamin masa depan yang aman dan lebih baik. Pemerintah-pemerintah dunia semestinya tidak perlu menimbang proposal-proposal yang menghasilkan lebih banyak kerugian daripada keuntungan,” ungkap seorang anggota SolarGeneration dari Filipina, Karla de Guia. “Kami percaya bahwa hanya energi terbarukanlah satu-satunya solusi yang sempurna.”
IPCC bertemu di Bangkok untuk mendiskusikan rekomendasi rekomendasi kebijakan dalam rangka mengatasi perubahan iklim. Hasil pertemuan tersebut akan diungkapkan dalam sebuah laporan untuk publik pada akhir pertemuan di hari Kamis. Beberapa agensi media telah melaporkan bahwa opsi-opsi yang diperkirakan akan disampaikan dalam pertemuan tersebut berkisar dari efisiensi energi dan energi terbarukan, sampai teknologi yang berpotensi bahaya dan belum teruji seperti energi nuklir hingga penyerapan dan penyimpanan karbon.
Greenpeace meminta kepada para pemerintah di seluruh dunia untuk segera mengambil tindakan tegas untuk merevolusi produksi serta konsumsi energi global dalam menghadapi peringatan-peringatan yang mengkhawatirkan sehubungan dengan perubahan iklim yang telah dikeluarkan setelah dua
pertemuan IPCC di tahun ini.
“Satu-satunya solusi yang dapat diterima adalah adaptasi masal terhadap energi yang bersih dan terbarukan, serta adaptasi masal juga terhadap efisiensi energi. Greenpeace telah menunjukkan bahwa dunia bisa hidup dengan energi yang aman dan terbarukan, dan bahwa kita dapat mencapai target efisiensi yang diperlukan. Kita dapat melakukan semua ini bahkan bersamaan waktu dengan proses penghapusan pemakaian sumber energi berbahaya dan merusak lingkungan seperti batubara dan nuklir. Dan kita harus mulai sekarang juga,” kata Juru Kampanye Iklim dan Energi se-Asia Tenggara untuk Greenpeace, Tara Buakamsri.
Minggu yang lalu Greenpeace telah meluncurkan sebuah laporan berjudul ‘Energy [R]evolution: A sustainable East Asia Energy Outlook’ yang menjabarkan bagaimana pemakaian energi terbarukan, bersamaan dengan efisiensi yang dihasilkan oleh budaya hemat energi, dapat mencukupi setengah dari kebutuhan energi dunia hingga pada tahun 2050.
Laporan tersebut hadir di saat banyak negara-negara di Asia yang mewacanakan berbagai alternatif-alternatif lain untuk menghindari pemakaian sumber-sumber energi dari fosil yang berbahaya. Pendukung-pendukung muda SolarGeneration mendorong pemerintah mereka untuk memilih kebijakan energi yang benar.
“Saat ini pemerintah negara saya sedang mendorong dibangunnya pembangkit listrik tenaga nuklir. Namun saya tidak ingin adanya pembangkit nuklir di negara saya maupun di negara-negara lain karena itu sangat tidak aman dan berbahaya. Kebijakan tersebut tidak baik untuk masa depan,” ungkap Ivy Londa seorang anggota SolarGeneration dari Indonesia.
→ Leave a CommentCategories: Uncategorized
Perubahan Iklim Adalah Sinyal Gagalnya Model Pembangunan Saat Ini
May 2, 2007 · Leave a Comment
Chalid Muhamad, Walhi
Wilayah Asia Pasifik harus bersiap dan mendesak dunia melakukan tindakan yang jauh lebih konkret menghadapi perubahan iklim. Asia Pasifik akan mengalami dampak serius akibat perubahan iklim, kekeringan panjang, musim hujan yang pendek dengan intensitas tinggi, kenaikan muka air laut, kerentanan yang makin tinggi pada potensi kebakaran hutan dalam 20-30 tahun mendatang.
Anggota-anggota federasi Friends of the Earth International (FoE International) yang berkumpul di Bogor, Senin hingga Rabu minggu lalu menyimpulkan bahwa perubahan iklim adalah alarm terakhir dari gagalnya model pembangunan yang berlaku sekarang. Pertemuan ini juga merupakan persiapan masyarakat sipil terhadap putaran perundingan negara-negara penandatangan Protokol Kyoto-UNFCCC di Bali Desember mendatang.
“Tanda-tanda perubahan iklim dan buruknya dampak perubahan iklim merupakan seruan bagi masyarakat internasional untuk bertindak sekarang tanpa menunda lagi. Pemerintah-pemerintah akan mendiskusikan skema baru berdasarkan Protokol Kyoto paska 2012. Kami berharap negara-negara industri menunjukkan kepeloporannya dalam mereduksi emisi mereka sendiri,” kata Catherine Pearce, Koordinator Kampanye Perubahan Iklim dan Energi Friends of the Earth Internasional.
Badan ilmiah PBB, IPCC dalam Laporan Assesment ke 4nya tahun ini, memperingatkan bahwa dunia sedang mengalami dampak yang luar biasa merusak akibat perubahan iklim terutama di negara-negara selatan terutama negara kepulauan seperti Indonesia. Kerusakan bahkan telah terjadi sekarang berdampak pada masyarakat yang tinggal di pesisir, petani, dan kelompok-kelompok yang terkena cuaca ekstrem. Penyebabnya adalah eksploitasi serampangan yang dilakukan oleh negara-negara industri seperti Jepang. Emisi karbon maupun jejak karbon Jepang tersebar di seluruh Asia.
“Sekarang saatnya bertindak bukan hanya mengurangi emisi negara utara tetapi mengubah cara hidup negara-negara maju dan mengambil tanggung jawab atas dampak yang telah terjadi bagi rakyat di Asia dan seluruh dunia,” kata Yuri Onodera dari FoE Jepang.
”Rakyat seluruh dunia harus menuntut agar negara-negara seperti Australia, yang emisi gas rumah kaca perkapitanya amat tinggi, segera mengurangi emisinya dan mengambil tanggung jawab atas emisi masa lalu,” kata Stephanie Long (FoE Australia).
Banyak negara Asia Pasifik seperti Indonesia misalnya, sama sekali tidak menunjukkan kesiapannya dalam memperbaiki mutu lingkungan, merubah pengerahan sumber daya pembangunan, dan menata perekonomian rakyat agar lebih mampu bertahan pada iklim yang berubah. Kenyataannya, kerusakan lingkungan semakin bertambah parah dan tidak teratasi. Dalam catatan WALHI/FoE-Indonesia sebagian besar bencana alam yang terjadi di tahun 2006 adalah bencana yang diakibatkan oleh salah urus lingkungan. Pembukaan wilayah-wilayah ekosistem penting untuk industri ekstraktif, perkebunan raksasa, dan perluasan infrastruktur semakin mempertinggi kerentanan pulau-pulau Indonesia bertahan dari perubahan iklim.
Pemanasan global dan perubahan iklim adalah sinyal atas gagalnya model pembangunan saat ini. Perlu dilakukan reorientasi pembangunan dari paradigma yang hanya berorientasi pembangunan ekonomi menjadi pembangunan yang berorientasi keselamatan rakyat. Hal ini bisa dilakukan dengan pengerahan sumberdaya pembangunan untuk mengurangi kerentanan ekosistem dan sosial agar dapat bertahan dalam iklim yang berubah.
Masyarakat harus bekerja bersama menuntut negara-negara industri mengurangi konsumsi yang berlebihan dan memberikan kompensasi pada mereka yang menderita akibat perubahan iklim dan ekstraksi sumber daya yang berlebihan.
Catatan:
- Friends of the Earth International adalah federasi organisasi lingkungan terbesar di dunia yang beranggotakan 70 organisasi di 70 negara, 5000 kelompok – kelompok lokal dan akar rumput, serta1.5 juta pendukung. (www.foei.org)
- Wahana Lingkungan Hidup Indonesia adalah anggota dari federasi Friends of the Earth Interational
- IPCC: Intergovernmental Panel on Climate Change adalah satu badan ilmiah yang terdiri lebih dari 500 ilmuwan dari seluruh dunia yang bertugas melakukan telaah atas pemanasan global dan perubahan iklim. Setiap tahun badan ini mengeluarkan laporan kondisi perubahan iklim yang menjadi dasar perundingan antar negara dalam rangka mengatasi pemanasan global dan perubahan iklim.
→ Leave a CommentCategories: Uncategorized
CFC ban a hard call due to lack of alternatives
April 27, 2007 · Leave a Comment
Adianto P. Simamora, The Jakarta Post
While you sit in your cool office, shielded from the tropical heat, your air conditioner is burning through a chemical regarded as one of the biggest culprits in the depletion of the ozone layer.
Chlorofluorocarbons, or CFCs, have been banned in many countries around the world, a lead the Jakarta administration is yet to follow — despite the fact that Jakartans’ usage of CFCs make up 60 percent of that of the national level, an official said.
Deputy chairman of the administration’s team on ozone protection Daniel Abbas admitted that his office was facing difficulties in forcing businesses to stop using CFCs due to the lack of alternatives.
“The State Ministry of the Environment informs us that Jakarta is the main user of ozone-depleting substances. But we can’t force businesses to stop it unless there are alternative substances,” he told The Jakarta Post.
He said that the ministry’s claim was reasonable since most households and buildings in Jakarta were equipped with air conditioners, in addition to the millions of food transportation trucks that also use air conditioners around the country.
CFCs, which are also used in refrigerators, foam production, fire extinguishers, aerosols and solvents, are the main destroyers of the ozone layer, which blocks out the sun’s deadly ultraviolet rays.
They are mainly imported from India and China and are more popular here than more ozone-friendly hydroflurocarbons because they are less expensive.
The ministry has estimated that around 4,000 tons of CFCs are illegally traded every year, 10 times the country’s annual quota of 400 metric tons.
Indonesia ratified the Vienna Convention and Montreal Protocol on Ozone Layer Protection in 1992, obliging it to phase out the use of ozone-depleting substances.
The protocol requires Indonesia to stop importing CFCs by December this year.
The administration issued a gubernatorial decree last year establishing a working team to protect the ozone layer and end the use of ozone-depleting substances.
Daniel said that the environment ministry had supplied 198 CFC recycling machines to Jakarta auto workshops.
The machines, which are worth Rp 35 million each, recover, recycle and recharge CFCs produced by car air conditioners.
“However, many of the machines are now inoperable since there are no technicians that know how to repair them,” he said.
He said that the administration was currently looking to identify ozone-depleting substance use in the city.
“We have signed an agreement with a non-government organization to monitor the use of ozone-depleting substances,” he said.
The depletion of the ozone layer, which is located in the stratosphere, between 15 and 60 kilometers up, can have serious health affects, increasing skin cancer and cataract rates in both humans and animals, as well as damaging marine ecosystems.
Widespread use of CFCs around much of the world throughout the 20th century led to a large hole developing in the ozone layer above Australia, Antarctica and the South Pacific. Australia now has the highest skin cancer rate in the world.
The Indonesian government has said that between 1995 and 2004, 7,119 tons of ozone-depleting substances, mainly CFCs, were phased out.
Indonesia has received millions of dollars from multilateral donors to fund the phase-out, which also includes a deadline on the use of hydrofluorocarbons.
By 2040, the more ozone-friendly substance will not be used here any more, with an even safer alternative chemical to replace it.
Meanwhile, Industry Minister Fahmi Idris said Tuesday that his office had issued an ordinance banning industries from using ozone-deflating substances as raw materials.
“We will withdraw the business permits of industries that did not comply with the regulation,” he was quoted by Antara as saying.
→ Leave a CommentCategories: GW in the News